Mengatasi Bahaya Konten "Skibidi Toilet" bagi Anak dan Remaja di TikTok



Skibidi Toilet, sebuah serial animasi yang melanda popularitasnya di YouTube, kini tengah menjadi sorotan di platform TikTok. Meskipun animasi ini dianggap menggemaskan, fenomena imitasi adegan dari konten tersebut telah memunculkan beberapa peringatan serius. Terutama, perilaku meniru seperti memasukkan barang-barang ke dalam toilet, telah menimbulkan risiko yang signifikan bagi anak-anak dan remaja yang terpapar.

Dalam konteks ini, penting untuk menyadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kognitif yang matang untuk memahami konsekuensi dari tindakan yang mereka tiru dari konten media. Karena itu, animasi ini menjadi berpotensi berbahaya bagi mereka. Banyak akun di TikTok telah berupaya memberikan peringatan kepada orang tua untuk lebih memantau dan mengontrol konten yang diakses oleh anak-anak mereka.

Orang tua memiliki peran krusial dalam melindungi anak-anak dari dampak negatif konten ini. Mereka dapat melakukan langkah-langkah seperti mengatur batasan usia untuk konten yang dapat diakses, memanfaatkan fitur kontrol orang tua yang disediakan oleh platform media sosial, dan lebih membangun komunikasi yang kuat dengan anak-anak mereka. Terlebih lagi, pembatasan waktu penggunaan media sosial, penerapan fitur kontrol orang tua, dan mendorong partisipasi dalam aktivitas dunia nyata adalah strategi efektif untuk membatasi imitasi perilaku yang tidak diinginkan.

Keterlibatan aktif orang tua dengan pengawasan yang cermat serta dorongan untuk terlibat dalam kegiatan dunia nyata adalah kunci utama dalam melindungi anak-anak dari risiko yang mungkin ditimbulkan oleh konten yang tidak sesuai dengan usia mereka. Melalui pendekatan ini, lingkungan yang aman dapat diciptakan, yang mendukung perkembangan positif anak-anak.

Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak-anak juga sangat penting. Dengan berbicara secara terbuka tentang konten media sosial dan membantu anak-anak memahami perbedaan antara realitas dan hiburan, orang tua dapat membentengi anak-anak mereka dari dampak negatif yang mungkin dihasilkan oleh konten tersebut.

Harapannya, dengan pendekatan yang hati-hati dan perhatian yang lebih besar terhadap pengawasan serta pembatasan, anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka tanpa terpengaruh oleh dampak negatif konten media sosial yang tidak sesuai untuk usia mereka.